Derby D’Italia

Senin dini hari, 26 Maret 2012 pukul 02.45 Ultras ICI regional manado membiru hitamkan D’Cofee Sario disertai nyanyian nyanyian ala Interisti yang membahana memecah kesunyian ketika itu. Semua bersiap (termasuk saya) menyambut big match berjuluk Derby d’Italia antara tuan rumah Juventus melawan tim kebanggaan kita Inter Milan. Dalam hal ini target Inter tinggal bagaimana dapat tampil di Liga Champion musim depan dengan setidaknya finish di empat besar klasemen pada akhir kompetisi. Namun gengsi pertandingan ini jauh melampaui target tersebut. Sejarah mencatat setiap pertemuan kedua tim merupakan salah satu yang terpanas di kopetisi sepabola eropa sejajar dengan derby della madonina, bahkan el classico di negeri matador. Mungkin secara detailnya serba serbi pertemuan Juve vs Inter yang dikatakan panas itu akan saya muat dalam postingan lain. Secara khusus disini akan membahas jalannya pertandingan dini hari tadi, dan bagaimana saya mendapat pelajaran tentang arti kesetiaan.

Kick off babak pertama, terlihat kedua tim mulai memperagakan permainan yang solid dengan saling bergantian menyerang. Dua kali Inter Milan mendapat peluang bagus di menit ke 1-4. Dimulai dengan tembakan dari Joel Chukwuma Obi memanfaatkan umpan terobosan jauh dari Dejan Stankovic. Buffon masih bisa mengamankan gawangnya. Tak berselang lama, giliran Diego Milito yang berhasil memanfaatkan umpan Maicon. Bola hasil tembakan keras Milito sayangnya masih bisa ditangkap Buffon.

Juventus balas menyerang di menit ke-17. Allesandro Matri berhasil menanduk bola umpan dari Martin Caceres. Beruntung headingnya tepat mengarah di mana Cesar berdiri. Cesar menangkap bola itu. Yeaaahhh !!! serentak para Interisti memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi penyelamatan gemilang pemain bernomor punggung 1 itu. Juve nyaris kebobolan lewat serangan cepat yang dibangun Inter Milan. Hampir saja heading Diego Forlan menggetarkan jala Buffon di menit ke 29. Tentu saja teriakan membahana ketika itu berharap si kulit bundar melewati garis putih bersarang di jala Buffon.

Lagi, Inter membuat serangan berbahaya. Diego Milito berhasil meraih umpan lambung jauh dari Dejan Stankovic. Di kotak penalti Milito menembak tapi lagi-lagi reflek Buffon yang tampil lumayan baik, masih bisa mengatasi tendangan keras itu.

Kartu kuning pertama kali dikeluarkan wasit untuk pemain asal Jepang, Yuto Nagatomo di menit ke 34, yang sempat membawaku menerawang jauh, kembali pada sejarah kelam sepakbola Italia yang dikenal dengan Calciopoli. Dan Juventuslah salah satu yang terlibat didalamnya sehingga dilengserkan ke serie-B.

Menjadi catatan spektakuler, dimana INTER adalah satu satunya Club Liga Italia yang tidak pernah merasakan kompetisi selain Serie-A pasca terdegradasinya Juventus ke Serie-B.

Buffon tampil gemilang. Lagi-lagi ia berhasil menepis tendangan keras dari luar kotak penalti yang dilesatkan Denjan Stankovic. Tapi bukan cuma Buffon yang tampil gemilang. Cesar juga kokoh menyelamatkan gawangnya. Tembakan keras mendatar Vucinic dari luar kotak penalti berhasil ditangkapnya. Peluang terakhir di babak pertama sekali lagi Stankovic mencoba ketangguhan Buffon. Ia menendang keras dari luar kotak penalti namun masih bisa ditepis.

Babak kedua, menit ke-53 Conte memasukkan Alessandro Delpiero. Pemain berusia 37 tahun itu masuk menggantikan Alessandro Matri. Spirit yang dibawa Delpiero sepertinya membawa hasil. Juventus akhirnya berhasil menyarangkan bola ke gawang kiper Inter Milan, Cesar. Gol diciptakan Martin Ceceres di menit ke 57 assist dari tendangan sudut Andrea Pirlo.

Tendangan sudut di dapat Juventus setelah Cesar memblok tendangan keras Claudio Marchiso. Pirlo yang bertindak sebagai penendang mengirimkan bola ke Ceceres yang tak dijaga ketat pemain Inter. Ceceres melompat menyambut bola kiriman Pirlo. Sayangnya reflek Cesar tak mampu mengataasi bola hasil sundulan itu. Kedudukan berubah menjadi 1-0 untuk keunggulan Juventus. Bahkan beberapa menit kemudian Delpiero berhasil mengejar umpan terobosan dari Arturo Vidal di kotak penalti. Ia berhasil menaklukkan Cesar dengan kaki kanannya.

Suasana nonton bareng ICI manado menjadi hening, nyaris tak terdengar lagi nyanyian nyanyian penuh semangat seperti pada babak pertama tadi. Inter yang sebenarnya menguasai di awal-awal pertandingan seolah berubah ketika skor telah menunjukan angka 2-0 membawa Juve di atas angin. Hingga akhir pertandingan punggawa Nerazzuri tidak mampu berbuat apa-apa, sekalipun untuk memperkecil ketertinggalan.

Perasaan kecewa tentunya ada, apalagi kalah oleh musuh bebuyutan. Tetapi semangat militansi seorang Interisti tidak sedikitpun pudar,

Menang, draw, atau kalah sekalipun… itu hanyalah hasil akhir sebuah pertandingan.

Yang terpenting disini yaitu kesetiaan kita mendukung Inter Milan. Klub sepakbola yang senantiasa menanamkan nilai nilai kejujuran diatas segalanya. Forza Inter Per Sempre….

(Liberty M.Rumagit)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s