INERIE (Mama yang cantik); makan malam bersama Lola Amaria

Angka kematian ibu saat melahirkan di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tinggi membuat sineas muda Lola Amaria terpanggil untuk membuat sebuah film edukasi kesehatan berjudul Inerie (Mama yang cantik). Film dengan durasi 72 menit ini adalah sebuah dokumenter dengan sentuhan fiksi di sebuah daerah terpencil tepatnya di desa Tololela Kabupaten Flores.

Film ini bercerita tentang si kembar Bela dan Belo yang tumbuh hingga dewasa tanpa belaian kasih sayang ibu. Ayahnya membesarkan mereka sendiri karena sang ibu meninggal saat melahirkan si kembar.

Cerita berlanjut pada kekhawatiran Belo (diperankan Emanuel Tewa) akan saudara kembarnya, Bela (diperankan Maryam Supraba) yang sedang mengandung anak ketiga. Dia menginginkan saudaranya dan anak yang dikandungnya lahir sehat dan selamat.

INERIE (Mama yang cantik)

INERIE (Mama yang cantik)

Lola Amaria bertindak sebagai produser di film yang disutradarai oleh Chairun Nissa ini. Ia mengaku perlu penelitian cukup lama untuk menggarap film yang didanai oleh Pemerintah Australia ini melalui porgram Kemitraan Indonesia-Australia untuk Kesehatan Ibu dan Bayi.

“Observasi dan penelitian sejak bulan Oktober 2013 sampai Januari 2014, saya dan tim keliling mencari bahan di Kabupaten Flores dan akhirnya ketemu lah desa Tololela, sebuah desa yang eksotis sesuai dengan apa yang mau kita angkat,” ujarnya saat menjawab beberapa pertanyaan saat diskusi di Leibniz Universität Hannover (19/02).

Lola Amaria in Hannover

Lola Amaria

Salah satu materi observasi dan penelitian adalah keengganan warga Flores melahirkan di Puskesmas atau rumah sakit dan lebih memilih dukun kampung. Selain itu, tim kecil yang dikomadoi langsung Lola untuk mencari tempat sesuai dengan cerita.

“Desa Tololela harus ditempuh dengan mendaki satu jam, mobil dan lainnya tidak bisa masuk. Syukurlah semua terbayar dengan keindahan Tololela dan masyarakatnya sangat ramah setelah dilakukan ritual hati ayam” ujar Lola kepada teman-teman BUGI e.V.

Ritual hati ayam ini sesuai adat daerah setempat diyakini sebagai sarana komunikasi mereka dengan arwah para leluhur. Sebelum orang asing masuk ke daerah mereka harus diuji terlebih dahulu melalui hati ayam apakah mempunyai niat jahat atau tidak.

Tak hanya mengangkat cerita dibalik tingginya angkat kematian ibu melahirkan, lewat Inerie, Lola kembali mengangkat eksotisme Indonesia bagian Timur. Mulai dari adat istiadat, kain ikat Flores hingga kuliner lokal.

Makan malam bersama Lola Amaria

Pada hari yang sama setelah acara Pemutaran Film dan diskusi di Leibniz Universität Hannover (19/02) kami berkesempatan menikmati makan malam bersama mbak Lola Amaria. Jauh dari kesan seorang selebriti, pembawaan mbak Lola sangat sederhana dan simple namun tetap menampilkan kecantikannya.

Lola amaria di Hannover Jerman (1)

Makan malam bersama Lola Amaria

Malam itu kami makan di sebuah restoran Turki di sekitaran Steintor Hannover dengan hidangan sederhana namun menjadi ciri khas masakan Turki di Hannover. Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini, dengan terus berdiskusi tentang berbagai macam hal. Mbak Lola tidak segan-segan menjawab bahkan bertukar pikiran tentang topic-topik menarik yang kami bahas.

Lola Amaria di Hannover

Minta tanda tangan 😀

Hingga sekitaran pukul 23.00 kami berpisah, dimana mbak Lola bersama temannya dari Watch Indonesia Berlin harus kembali ke Hotel tempat mereka menginap karena besok harinya akan melanjutkan perjalanan ke kota Köln untuk acara serupa namun dengan film “Negeri Tanpa Telinga”.

Sungguh merupakan mengalaman yang tak terlupakan bisa berbagi cerita, canda dan tawa dalam kebersamaan dengan Lola Amaria. Cantik, pintar, sederhana dan tidak sombong 😀

Lola amaria di Hannover Jerman (4)

Bersama Lola Amaria

 

Advertisements

9 thoughts on “INERIE (Mama yang cantik); makan malam bersama Lola Amaria

  1. Keren sekali, Bro. Bertemu sosok inspiratif, bisa menggali ilmu darinya, kemudian menuliskan ilmu-ilmu itu dalam artikel yang juga keren seperti ini, saya cuma bisa mengucapkan terima kasih.
    Saya belum pernah menonton filmya itu :huhu. Kayaknya mesti cari-cari, nih :hehe.

  2. hallo Liberty, mampir kemari 🙂
    whoaa seru banget bisa bertemu dengan Lola Amaria. pasti banyak kesan2 dan sharing ilmu ya Liberty? btw panggilanya siapa si ini? bener gak nickname liberty salah manggil gak enak ;p

    semoga saja film ini bisa menginspirasi masyarakat diluar sana tentang pentingnya kesehatan seorang ibu dan anak. dan bisa membuka mata dunia kalau ternyata dibelahan dunia lain masih ada hal2 seperti ini. tanpa dipungkiri kondisi daerah tsb masih tertinggal banget kan ya ..terbukti masyarakat desa tsb lebih percaya dukun dibanding dokter.

    Barusan browsing2 juga kalau Inerie ini juga salah satu nama gunung di daerah flores ya. suka namanya baguss 🙂

  3. hallo Liberty mampir kemari.

    Whoaa seru banget bisa bertemu dengan salah satu sineas berbakat Lola Amaria. pasti dapat banyak ilmu dan sharing hal2 menarik lainya ya. tema film dokumentar fiksinya bagus ya. smoga bisa memberikan manfaat kepada masyarkat luas kalau ternyata emang masih ada daerah2 tertentu yang jauh tertinggal dalam hal kesehatan. dan betapa pentingnya kesehatan seorang Ibu hamil, melahirkan dan anaknya. memang tanpa dipungkiri kalau didaerah pelosok indonesia hal2 seperti lebih percaya dukun dibanding dokter masih banyak ditemui yaa..

    Inerie ini bagus ya namanya, barusa browsing2 juga ternyata salah satu nama gunung di daerah flores.

    Dan kayanya gue barusan comment juga tapi kok gak masuk ya,dipanggilnya liberty kan ya? 🙂

  4. Pingback: Kein Englisch, bitte! | Memorabilia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s