Nontong bareng film “Die Before Blossom” dan diskusi bersama Ariani Djalal

Dengan komitmen untuk mendukung kemajuan sistem pendidikan dan kesehatan yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, BUGI e.V. berupaya melakukan terobosan sederhana namun nyata berupa kegiatan-kegiatan yang bersifat inovatif dan tepat sasaran. Salah satu diantaranya adalah diskusi mengenai isu-isu terkini masalah pendidikan dan kesehatan di Indonesia melalui pemutaran film dengan menghadirkan sutradara/produser dari film tersebut di Hannover.

Seperti pada postingan sebelumnya (Putar film dan diskusi dengan Lola Amaria) dimana kami membahas kondisi kesehatan ibu dan anak yang erat kaitannya dengan kematian ibu saat melahirkan di daerah Nusa Tenggara Timur. Beberapa waktu sebelum itu tepatnya tanggal 1 Desember 2014 kami berhasil mendatangkan Mbak Ariani Djalal selaku sutradara dan produser film bertema pendidikan dengan judul “Die Before Blossom (Layu Sebelum Berkembang)”.

Ariani Djalal layu sebelum berkembang

Ariani Djalal – Penulis, Sutradara, dan Produser film “Die Before Blossom”

Ariani Djalal layu sebelum berkembang

Diskusi tentang pendidikan di Indonesia berkaca dari film Die Before Blossom

Ariani Djalal adalah lulusan fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada tahun 1995. Setelah krisis ekonomi dan era Reformasi pada tahun 1998, ia bekerja sebagai wartawan lepas dan pembuat film dokumenter. Mbak Ariani memproduksi, menulis dan mengarahkan film dokumenter dan fitur berita untuk televise, sampai pada tahun 2003 ia memulai sebagai produser.

Antara April 2008 dan April 2010 ia berpartisipasi sebagai sutradara di Documentary Cinema Capacity Building Program “Indonesia- Ten Years after Reformasi” yang diprakarsai oleh Goethe Institute. Dia mengembangkan film dokumenternya “Die Before Blossom” yang bekerja sama dengan Goethe Institute dan mendapatkan dana dukungan dari IDFA / Bertha Fund 2012.

“Die Before Blossom” adalah film dokumenter tentang berakhirnya masa kanak-kanak, serta bagaimana kehidupan remaja putri muslim kelas menengah saat ini. Menggambarkan dua keluarga selama periode yang menentukan karir sekolah anak perempuan mereka di Yogyakarta . Sementara itu, sistem pendidikan umum di Indonesia berubah di bawah tekanan dari pihak politik Islam. Lembaga sekuler lebih diarahkan membentuk jutaan pemuda tunduk dengan memasukkan lebih banyak kegiatan keagamaan ke dalam kehidupan sekolah.

Menjadi tokoh utama di film ini ialah dua orang anak pada dua tahun terakhir mereka di Sekolah Dasar Negeri sampai mereka lulus Ujian Nasional dan beralih ke SMP yang berbeda. Lulus Ujian Nasional di Indonesia berarti titik balik yang sangat penting dalam kehidupan murid. Ini tidak hanya menentukan perjalanan sekolah dan masa depan si anak, tetapi juga mempengaruhi proses pendewasaan.

Kegembiraan dan gelisah ketika gadis-gadis (siswi) merasa dihadapkan oleh kekuatan dominan nilai-nilai Islam. Pada langkah awal mereka menjadi wanita dewasa, gadis-gadis akan mulai mengenali bagaimana masyarakat mencoba untuk mengontrol dan mendefinisikan mereka. Pada waktu itu anak perempuan biasanya memasuki siklus ‘kewanitaan’ dan sering diminta untuk mulai menutupi rambut mereka dan memakai rok panjang.

Ariani Djalal layu sebelum berkembang

Peserta yang antusias, termasuk pak Singgih Yuwono (Konsul Jenderal RI)

Hari ini saya merasa bahwa saya tidak menerima pendidikan yang mendorong saya untuk menjadi manusia yang kritis. Sejauh ini saya hanya diajarkan bagaimana beradaptasi, untuk menyamarkan pendapat demi sikap kompromi untuk hal-hal di luar saya. Saya selalu merasa frustrasi, sendirian dengan pikiran yang benar saya sendiri. Selama bertahun-tahun saya diam, saya menemukan cara untuk mengekspresikan lebih dan lebih.

Saya tertarik untuk berurusan dengan isu-isu perempuan dalam film, karena menurut masyarakat religius yang dominan dalam masyarakat kita, wanita sering dianggap sebagai makhluk lemah. Dalam bidang sosial ekonomi, perempuan masih ditugaskan untuk peran ibu rumah dan hampir tidak diakui sebagai pencari nafkah. Ada lebih banyak perempuan dalam populasi kami daripada pria, namun dalam politik, kita hanya melihat beberapa perempuan di posisi penting. Bagaimana kita bisa mengubah itu, jika nilai-nilai Islam konservatif semakin menyebar, sementara sangat sedikit orang peduli?

Saya menyadari fakta bahwa saya juga membuat film ini dari perspektif seorang ibu yang sedang khawatir.

Seperti itu ungkapan dari seorang Ariani Djalal, sosok yang rendah hati dan fleksibel dalam bergaul. Misalnya ketika selesai acara diajak makan di restoran Vietnam dekat Steintor Hannover oleh team BUGI yang mayoritas anak-anak muda gaul (*ciiieee), mbak Ariani bisa melebur dalam kebersamaan yang hangat di malam musim dingin kala itu.

Semoga semakin banyak pekerja film yang mau mendedikasikan karya mereka untuk dunia pendidikan, serta besar harapan kami pendidikan di Indonesia bisa semakin maju kedepannya.

libertymr.com

Ariani Djalal layu sebelum berkembang

Team BUGI, Konsul Jenderal RI – Pak Singgih Yuwono, undangan, dan peserta bersama mbak Ariani Djalal

Advertisements

One thought on “Nontong bareng film “Die Before Blossom” dan diskusi bersama Ariani Djalal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s