Kein Englisch, bitte!

Moin!

Setelah beberapa postingan sebelumnya lebih bersifat liputan aktual tentang aktifitas yang saya lakukan bersama BUGI dan PPI Hannover, hobby sepakbola yang bisa tersalurkan setelah nonton langsung pertandingan di stadion HDI arena dan Volkswagen Arena, serta kehebohan gerhana matahari di Jerman; saat ini saya akan sedikit membahas topik ringan yaitu tentang salah satu sifat orang jerman khususnya dalam berkomunikasi.

Saya tertarik menulis tentang hal ini setelah beberapa hari lalu berbincang-bincang dengan teman yang ikut CeBIT 2015 katanya tuan rumah tempat mereka menginap sangat susah diajak berkomunikasi karena tidak bisa berbahasa Inggris. Begitu juga ketika teman saya ini hendak membeli sesuatu di KIOSK, juga membayar di kasir supermarket. Padahal Jerman sebagai negara maju dalam segala bidang harus mempersiapkan masyarakatnya menggunakan bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris. Itu pandangan yang tidak salah namun tidak sepenuhnya benar menurut saya.

Seperti yang kita tahu bersama, Jerman merupakan negara yang menjunjung tinggi bahasa mereka. Sekali kita berniat untuk tinggal di Jerman, seketika itu pula kita harus punya niat untuk belajar dan menguasai Deutsch. Karena komunikasi sangat penting dalam kehidupan sehari hari entah itu dalam kuliah, kerja maupun aktifitas yang memungkinkan kita bertemu langsung dengan masyarakat asli. Kalau untuk beberapa waktu sepertinya bisa lah ya.

Bagaimana dengan orang yang bisa berbahasa Inggris ?. Menurut saya pribadi itu nilai tambah yang sangat penting, namun tidak cukup untuk bisa survive dalam waktu lama di Jerman. Ingat, Hampir semua petunjuk entah itu di bandara, stasiun kereta, atau stasiun bus menggunakan bahasa Jerman. Fasilitas public lainnya seperti halte S-Bahn, U-Bahn, telepon umum, bahkan pertokoan dan rumah makan sangat jarang menggunakan bahasa Inggris.

Berdasarkan pengalaman yang saya lihat yaitu orang-orang disini akan sangat menghargai anda yang mencoba berbicara bahasa Jerman meskipun tidak sempurna, daripada anda yang sangat fasih berbahasa Inggris. Makanya tidak jarang mendengar cerita teman-teman wisatawan dari Indonesia bahwa orang-orang Jerman itu sombong, judes dan tidak ramah saat diajak berbicara. Ya, memang bisa juga dikatakan seperti itu.

Mungkin kita akan berpikir bahwa mereka itu egois, tidak mau belajar bahasa Inggris, apalagi berbicara bahasa Inggris sehari-hari. Apa orang Jerman bodoh dan pemalas? mungkin untuk orang Indonesia alasannya itu, tapi bagi orang Jerman sesungguhnya ada pemahaman yang sudah mengakar dan membentuk budaya mereka.

Auf deutsch bitte !

Ilustrasinya seperti ini. Anggaplah anda sedang berada di Hannover Hauptbahnhof (Stasiun Utama) sebagai turis dan ingin mengunjungi salah satu tempat wisata, sebut saja Neues Rathaus (balai kota). Dalam kasus ini anda belum bisa berbahasa Jerman, otomatis komunikasinya menggunakan bahasa Inggris. Untuk menanyakan jalan anda bertanya kepada salah satu petugas atau orang yang ditemui disekitar anda: “Excuse me, would you like to show me the way to the City Hall, please?”.

Hampir dipastikan orang itu akan menjawab dengan bahasa Jerman : Nehmen Sie die Straßenbahn der Linie 2 richtung Laatzen oder Linie 8 richtung Messe bis zur Haltestelle “Aegidientor”. Dann gehen Sie gerade aus bis die ampel, und gehen Sie immer geradeaus. Seketika itu anda bingung dan terpaksa sekedar mengangguk-angguk pura-pura mengerti, bilang Thank you dan pergi.

Coba kita pikirkan secara objektif, apakah salah kalau orang Jerman menginginkan dia berbicara bahasa Jerman di kampung halaman, tanah airnya ? logis kan ?. Kemudian apakah anda merasa berada di Jerman ketika semua orang (harus) berbahasa Inggris ?, tidak kan. Kalau anda menginginkan setiap orang yang ditemui berbahasa Inggris, silahkan dengan senang hati pergi berlibur di Inggris, bukan di Jerman. Hehe, seperti itulah kira-kira pemahaman mereka.

Bagi orang Jerman bahasa itu menunjukkan identitas, jati diri bangsa. “Masuk ke dalam kandang kambing mengembik, masuk ke dalam kandang kerbau menguak”, atau “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Artinya hendaklah kita menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi dimana kita berada. Cobalah sedikit-sedikit mempersiapkan kalimat-kalimat dasar dengan bahasa dimana anda akan berkunjung, khususnya ke negara-negara Eropa non English seperti Jerman, Prancis dan Italia.

Harapan saya pribadi hal seperti ini juga boleh berlaku di Indonesia. Artinya mari kita biasakan menyapa orang asing dengan bahasa kebanggan kita, bahasa persatuan, bahasa tumpah darah, bahasa Indonesia. Karena yang terjadi selama ini kita orang Indonesia selalu sok-sokan berbicara dengan bule menggunakan bahasa Inggris. Belum tentu juga mereka mengerti, atau bisa jadi anggapan mereka bahwa kita tidak sepenuhnya menyambut kedatangan mereka karena kita tidak menggunakan bahasa ibu, bahasa Indonesia.

Jadi kesimpulannya, dimanapun kita berada sebisa mungkin menggunakan bahasa setempat dengan tidak meninggalkan jatidiri kita sebagai orang Indonesia yang penuh keramahan dan sopan santun.

Advertisements

7 thoughts on “Kein Englisch, bitte!

  1. Klo di kota besar spt Berlin, Frankfurt, munchen dll banyak yg bisa bhs inggris, tentunya anak mudanya . Minggu lalu aku ada baca blog org singapur tinggal di frankfurt. Dia kursus hanya a1 krn orang2 disekelilibnya bisa bhs inggris semua spt dokter gigi, tempat belanja dll.
    Jd tergantung lokasi tinggal juga sih, dan memang sebaiknya harus menguasai bhs jerman. Klo ga mau ya jangan tinggal di jerman 😀 .

  2. Ya aku setuju. Kita harus lebih menghargai bahasa ibu kita padahal orang Jerman itu rata2 bisa berbahasa Inggris at least conversational (at least menurut pengalamanku dulu).

  3. Ja, so ist das!. Die Mehrheit der Arbeitnehmer in Deutschland spricht nur mangelhaft Englisch. 65,5 Prozent der Beschäftigten geben an, nur über geringe Kenntnisse zu verfügen. Das hat eine Studie der Gesellschaft für Konsumforschung und des Sprachkursanbieters Wall Street English festgestellt. Befragt wurden Arbeitnehmer, die Englisch für ihre Tätigkeit benötigen.

  4. Nasionalisme mereka kuat, ya. Bahasa Inggris penting tapi itu tidak berarti melupakan bahasa ibu. Bukan berarti tidak mau belajar atau apa, mereka cuma mempertahankan tanah air mereka melalui perjuangan verbal. Kita pun harus begitu :)).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s