Mengirim berita ke NET Citizen Journalist

Kecanduan NET. Citizen Journalist

Hallo teman-teman semua! Sudah lama saya tidak menyapa kalian dengan tulisan di blog yang untuk beberapa waktu sempat terlupakan. Mungkin karena sampai saat ini saya masih berpusing-ria dengan buku perdana yang mudah-mudahan terbit akhir tahun (mohon doanya), hehe. Bukan Cuma itu, ternyata saya kecanduan mainan baru yang menggiurkan sehingga waktu untuk menulis di blog semakin…

Jumat, hari ke 20 di Bulan Maret 2015. Berbeda dari biasanya, pagi ini anak-anak sangat antusias untuk bergegas berangkat ke sekolah. Sepertinya mereka sudah tidak sabar menantikan fenomena langka yaitu Gerhana Matahari (Sonnenfinsternis) yang dapat dirasakan langsung di negara-negara Eropa bagian Utara termasuk Jerman. Seperti yang sudah saya jelaskan pada postingan sebelumnya (Perhatian! Besok gerhana matahari akan menyerang Jerman dan sekitarnya) bahwa Untuk melihat fenomena gerhana matahari, mata kita tidak boleh menatap langsung ke arah matahari yang tertutup bulan. Akibatnya akan sangat fatal yaitu mampu membakar retina mata dan berujung pada kebutaan. Walau menggunakan pelindung seperti kacamata hitam, belum cukup untuk melindungi mata dari kerusakan. Maka dari itu sejak sehari sebelumnya anak-anak di keluarga saya sudah mempersiapkan kacamata khusus yang didapat dari sekolah mereka. Katanya dari jam 09.00 sampai 12.00 tidak aka nada proses belajar mengajar melainkan guru-guru dan seluruh siswa akan melihat proses terjadinya gerhana matahari. Mengapa Gerhana Matahari berbahaya untuk mata ? Berdasarkan penjelasan Prof B. Ralph Chou yang saya kutip dari berita online Nusantara News, bahwa meskipun 99% cahaya matahari terlindung oleh bulan pada peristiwa gerhana matarahari sehingga wilayah umbra bumi menjadi gelap (seperti malam), namun tetap ada cahaya radiasi dari matahari yang sampai ke bumi, dan sampai ke mata (jika kita langsung menatap dengan mata telanjang). Dan perlu diingat, cahaya matahari terdiri dari berbagai gelombang sinar baik dari sinar tampak (pelangi : me-ji-ku-hi-bi-ni-u) maupun sinar tidak tampak seperti UV yang berenergi dan berfrekuensi tinggi (panjang gelombang 290 nm) hingga sinar cahaya dengan gelombang radio yang berenergi dan berfrekuensi rendah (panjang gelombang beberapa meter) . Pada organ mata,sinar cahaya UV dengan panjang gelombang sekitar 380 nm akan langsung ditransmisikan ke retina (bagian belakang organ mata yang sensitif). Dan berdasarkan fisiologi struktur mata, cahaya radiasi UV merupakan penyebab terjadinya reaksi kimia yang mempercepat penuaan lapisan mata yang akan membuat katarak atau dalam kondisi menatap langsung gerhana matahari dapat menyebabkan “retina terpanggang”. Besarnya intensitas sinar UV yang menempus ke retina menyebabkan kerusakan pada sel batang (rod cell) dan kerucut (cone cell) pada mata. Cahaya matahari (khusus komponen UV) menjadi pemicu serangkaian reaksi kimia pada sel-sel mata yang mana akan merusak kemampuan sel tersebut merespons objek visual. Dan dalam intensitas yang besar dan lama, akan menyebabkan kerusakan parah pada sel mata. Yang pada akhirnya akan menyebabkan mata mengalami buta sementara atau bahkan buta “abadi” (maksudnya tidak bisa disembuhkan). Seperti apa Gerhana Matahari di Jerman ? Disaat begitu hebohnya pemberitaan media dan perbincangan masyarakan mengenai fenomena ini beberapa waktu sebelumnya, sayapun turut dalam euphoria menyambut gerhana matahari. Tapi sesungguhnya yang terjadi harus diakui jauh berbeda dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Tepat diantara pukul 10:40 sampai 10:50 yang menurut teori sebagai titik puncak bulan menutupi matahari, malah tidak terjadi apa-apa. Hanya intensitas cahaya yang berkurang namun tidak signifikan apalagi gelap gulita – tidak!. *penonton kecewa* Menurut kesaksian mereka yang saat itu menggunakan kacamata khusus dan melihat detail pergerakan bulan yang melewati matahari, katanya hanya sekita 80 persen penampakan matahari yang tertutup bulan. Saya sendiri tidak berani mengambil foto pada waktu puncak tersebut dimana hampir semua artikel dan pemberitaan media menganjurkan untuk tidak melakukannya karena sangat beresiko. Adapun beberapa jam sebelum gerhana matahari saya sempat mengambil gambar bulan yang sedang malu-malu menghampiri matahari.

Sonnenfinsternis (Gerhana Matahari) Hebohkan Jerman

Jumat, hari ke 20 di Bulan Maret 2015. Berbeda dari biasanya, pagi ini anak-anak sangat antusias untuk bergegas berangkat ke sekolah. Sepertinya mereka sudah tidak sabar menantikan fenomena langka yaitu Gerhana Matahari (Sonnenfinsternis) yang dapat dirasakan langsung di negara-negara Eropa bagian Utara termasuk Jerman. Seperti yang sudah saya jelaskan pada postingan sebelumnya (Perhatian! Besok gerhana…

Hari ini anak-anak di keluarga aupair saya sibuk merakit kacamata khusus untuk melihat gerhana matahari dengan bahan yang disediakan dari sekolah. Ya, besok tepatnya tanggal 20 Maret 2015 gerhana matahari akan dirasakan oleh sebagian penduduk dunia, namun yang akan paling banyak merasakan dampaknya adalah Jerman dan negara-negara lain di Eropa Utara. Fenomena langka pada besok hari sepertinya akan menjadi gerhana terbesar yang dapat dilihat setiap 16 tahun sekali. Penasaran akan hal ini sayapun menonton berita di televisi, dan benar hampir semua program berita di Jerman membahas hal ini. Banyak kalangan yang mengkhawatirkan akan terjadi gangguan stabilitas pasokan listrik, karena memang Jerman dengan Kebijakan Energinya untuk meninggalkan listrik dari PLTA, sekarang ini sangat mengandalkan pasokan listrik dari tenaga surya. Wow, sayapun ikut tegang karena belum pernah terbayangkan bagaimana ketika bulan menutupi matahari dan selama beberapa saat terjadi gelap gulita. Gerhana matahari membahayakan mata Untuk melihat fenomena gerhana matahari total, mata kita tidak boleh menatap langsung ke arah matahari yang tertutup bulan. Meskipun tentunya semua orang akan penasaran melihat fenomena aneh dimana pada siang hari bolong terjadi suasana “malam” karena cahaya matahari tertutup oleh bulan, namun justru “kegelapan dalam siang hari” ini yang dapat membuat mata kita celaka. Bagi astronom terutama pengamat bintang, fenomena gerhana matahari menjadi fenomena astronomi yang spektakuler. Namun ini bukan berarti masyarakat awam (amatiran) tidak memiliki hasrat yang besar untuk menyaksikan fenomena alam ini, karena mereka ingin mengalami secara langsung maupun untuk mendokumentasikan fenomena langka ini. Tapi sekali lagi ingat, Melihat gerhana matahari secara langsung dapat mengakibatkan kebutaan! Setidaknya itu yang saya baca di Koran dan nonton di televisi. Selfie dengan gerhana matahari akan berakibat fatal Mengutip laporan The Telegraph, berfoto selfie saat gerhana matahari total bisa mengakibatkan kerusakan pada mata. Daniel Hardiman-McCartney dari College of Optometrists di Inggris mengatakan, mengambil foto menggunakan iPhone atau kamera biasa sama bahayanya dengan melihat matahari secara langsung dengan mata telanjang, yaitu mampu membakar retina mata dan berujung pada kebutaan. Walau menggunakan pelindung seperti kacamata hitam, belum cukup untuk melindungi mata dari kerusakan. Jika bersikeras ingin berfoto selfie, disarankan menggunakan kacamata khusus yang bisa menghalang sinar matahari berbahaya dan mencegah penyakit mata makula, yakni kerusakan pada inti retina akibat radiasi matahari. “Tak ada sistem aman untuk melihat gerhana secara langsung. Tapi, melihatnya dari video atau foto di ponsel tidak menimbulkan bahaya,” terang McCartney yang saya kutip dari berita online CNN. Bahkan menggunakan teleskop atau binokular sekalipun sangat tidak disarankan karena masih memiliki risiko tinggi. Penasaran dengan apa yang akan terjadi saat gerhana matahari hari Jumat besok ? tunggu postingan selanjutnya.

Perhatian! besok gerhana matahari akan menyerang Jerman dan sekitarnya

Hari ini anak-anak di keluarga aupair saya sibuk merakit kacamata khusus untuk melihat gerhana matahari dengan bahan yang disediakan dari sekolah. Ya, besok tepatnya hari Jumat tanggal 20 Maret 2015 gerhana matahari akan dirasakan oleh sebagian penduduk dunia, namun yang akan paling banyak merasakan dampaknya adalah Jerman dan negara-negara lain di Eropa Utara. Fenomena langka…

PPI Hannover

CeBIT Hannover 2015 & Gairah Perusahan IT Indonesia

Hannover semakin mengukuhkan dirinya sebagai kota Expo setelah hari Minggu 15 Maret kemarin Bundeskanslerin Angela Merkel membuka secara resmi event CeBIT yang adalah singkatan dari Centrum für Büroautomation, Informationstechnologie und Telekommunikation (Bahasa Inggris : Center for Office Automation, Information Technology and Telecommunication). CeBIT merupakan event internasional terbesar di dunia dalam bidang Informasi dan Telekomunikasi dan…

Ujian DSH

Intip model ujian dan contoh soal DSH

Moin moin,. Seperti yang sudah saya jelaskan pada postingan sebelumnya tentang DSH (Deutsche Sprachprüfung für den Hochschulzugang) bahwa terdapat dua tahapan dalam ujian ini yaitu secara tertulis dan lisan (wawancara). Adapun materi yang diujikan secara tertulis yaitu Vorgabenorientierte Textproduktion, Verstehen und Verarbeiten eines Hörtextes (Hörverstehen), dan Leseverstehen und wissenschaftssprachliche Strukturen. Disini saya akan sedikit menjelaskan…

DSH (Deutsche Sprachprüfung für den Hochschulzugang)

Moin moin,. Akhirnya bisa menulis lagi di blog ini setelah sebulan penuh melaksanakan wajib militer Vorbereitungkurs untuk persiapan ujian DSH di Leibniz Universität Hannover. Tentang suka duka mengikuti kursus ini nanti akan diceritakan pada postingan selanjutnya, kali ini saya akan membahas apa, bagaimana, seberapa penting dan seberapa susah ujian DSH itu. DSH adalah singkatan dari…

Beginilah Proses Terjadinya Salju

Minggu 25 Januari 2015, setelah penantian panjang akhirnya Hannover turun salju, Yeeeaaah!!!… senangnya tidak bisa dibayangkan, secara sebagai orang Indonesia kapan lagi bisa main salju, hehe. Sebenarnya sempat kecewa karena sejak beberapa bulan lalu memasuki Winter di hampir semua kota di Jerman sudah pernah mengalami hujan salju, kecuali Hannover. Kata keluarga saya disini bahwa dua…

Daylight Saving Time : Mengembalikan waktu yang dicuri.

Minggu, 26 Oktober 2014. Alarm di handphone berbunyi membangunkanku dari tidur yang nyenyak, sementara sinar matahari pagi menembus sela tirai jendela kamar : Ada yang berbeda hari ini! Sebagaimana hari-hari sebelumnya di musim gugur, matahari baru akan muncul sekitar jam 8. Tapi sekarang masih jam 7 pagi sudah tampak terang diluar, apakah matahari yang terlalu…

Mitfahrgelegenheit

Mitfahrgelegenheit : Rahasia murah keliling Jerman

Sambil menyelam minum air. Pepatah ini jelas tidak asing lagi bagi kita orang Indonesia yang sudah sejak dulu diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi, hehe. Sejalan dengan pepatah itu, bagi yang sedang menjalani hidup sebagai perantau di negeri orang tentu memiliki keinginan untuk jalan jalan menikmati kota lain disekitarnya. Apalagi di negara seperti Jerman yang…

Pasar tradisional di Jerman

Belanja di Jerman (2) Pasar Tradisional

Pasar tradisional selama ini kebanyakan terkesan kumuh, kotor, semrawut, bau dan banyak lagi stigma buruk yang membuat masyarakat mulai meninggalkan pilihan berbelanja di tempat ini dan beralih ke supermarket. Tetapi tidak demikian di Jerman. Meskipun negara ini dikenal sangat maju dan modern, namun budaya pasar tradisional masih tetap terjaga di kalangan masyarakat. Dibalik semakin menjamurnya…